30 Mar 2020

Sarapan Simpel : Sambel Korek lalap Terong Goreng

Sarapan simple : sambel korek cocol terong.

1. Terong dicuci, iris, goreng, sisihkan.
2. Sambel korek
 * 1 siung bawang putih
 * 2 cabe rawit atau lebih kalau suka pedas
 * garam secukupnya
Uleg, sajikan dengan nasi hangat, terong goreng dan lauk lainnya.
Kebetulan ada ikan ungkep di tukang sayur tadi, jadi pakai ikan. Gak ada ikan, pakai tempe atau tahu pun enak.


23 Mar 2020

Corona, Sebelum dan Sesudah

Sebelum : Muda mudi berbusana rapi, bukan menyandang kitab suci layaknya suasana di kota santri, tapi berduaan, di mall, di bioskop dan tempat-tempat lainnya.

Sesudah : Jaga jarak paling tidak satu meter, tidak melalukan kontak fisik walau cuma berjabat tangan

Perintah agama : jangankan berduaan, laki-laki dan wanita harus menundukkan pandangan

21 Mar 2020

Cara Membuat Sambal Kacang Khas Paron - Ngawi

Masih ingat dulu sering disuruh ibu menumbuk kacang dan bumbunya. Di desa saya di Paron kabupaten Ngawi, lumpang dan alu adalah perabot dapur yang wajib ada di setiap rumah. Fungsinya untuk menumbuk kopi, kacang, beras, kedelai, jamu dan masih banyak yang lainnya.

Dulu rasanya agak malas jika dapat tugas ini, apalagi sambal kacang, karena ada banyak step, yakni penumbukan kacang, penumbukan bumbu, lalu pencampuran kacang dan bumbu. Siapa sangka kini saya sangat merindukan masa itu.

Sambal ibu memang beda. Rasanya enak dan nagih. Entah karena bumbunya atau karena proses pembuatannya.

19 Mar 2020

Siaga Covid-19, Indonesia Urutan ke-40



Beberapa jam setelah pengumuman resmi dari Presiden 2 Maret lalu, saya memantau perkembangan covid dunia melalui situs internasional. Kala itu masih takjub karena dengan 2 penderita saja, setidaknya nama negara kita ikut tercantum dalam daftar tersebut, di rangking bawah tentunya.

Namun hari ini, dengan jumlah penderita 227 orang, Indonesia menempati urutan 40 dari seluruh negara yang terpapar Covid-19, 19 di antaranya meninggal.

Entah jumlah ini akan terus bertambah atau stagnan. Kita berharap jumlah ini akan berhenti di sini.

8 Feb 2020

Ta'awun | تَعَاون | Tolong-menolong Dalam Prespektif Islam

Gotong Royong = Ta'awun


Ta'awun secara bahasa :

Terjemahan dan Arti تعاون di Kamus Istilah Indonesia Arab

Teks asliArti Kata
perbuatan tolong-menolong, kerjasama [Umum]تَعَاوُن
kamu tolong menolong [Alquran Kata]تَعَاوَنُوا - تَعَاوَنُ -
dan tolong menolonglah kamu [Alquran Kata]وَتَعَاوَنُوا - تَعَاوَنُوا ، تَعَاوَنُ -
saling menolong, saling membantu, bekerjasama, tolong-menolong [Umum]تَعَاوَنَ - يَتَعَاوَنُ
menolang, menopang, membantu, mendukung, menyokong, melapangkan [Umum]عَاوَنَ - يُعَاوِنُ
Dalam Al-Quran :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Referensi: https://tafsirweb.com/1886-surat-al-maidah-ayat-2.html

Dala hadits :




Hadits Shahih Al-Bukhari No. 5567 - Kitab Adab

Membantu sesama mukmin

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي جَدِّي أَبُو بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ يَسْأَلُ أَوْ طَالِبُ حَاجَةٍ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَلْيَقْضِ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Burdah Buraidah bin Abu Burdah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku kakekku Abu Burdah dari ayahnya Abu Musa dari nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Seorang mukmin dengan mukmin yang lain ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain." Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya, setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam duduk, jika ada seorang laki-laki memerlukan atau meminta suatu kebutuhan datang kepada beliau, maka beliau akan menghadapkan wajahnya kepada kami, lalu beliau bersabda: 'Berikanlah pertolongan agar kalian saling memperoleh pahala dan semoga Allah melaksanakan apa yang disenangi-Nya melalui ucapan nabi-Nya.'"

Abu Musa, bernama asli Abdullah bin Qais.
المؤمن للمؤمن Sebagian mukmin atas sebagian mukmin lainnya, كالبنيان adalah seperti bangunan.
يشد بعضه بعضاً Sisi kesamaannya dengan bangunan adalah pada sikap saling menopang. ثم شبك بين أصابعه Inilah penjelasan tentang kemiripan keadaan kaum mukminin yang saling menguatkan.
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa siapapun yang ingin memberi penjelasan lebih detail dalam berbicara dapat menggunakan gerakan atau peragaan, agar lebih mudah dipahami dan berkesan dalam hati.
وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Penggabungan kata thalib dengan haajah, dalam riwayat lain: kata thalib dibaca tanwin dan hajatan dibaca nashab (fathahatain).
أقبل علينا بوجهه Rasulullah saw. menghadapkan wajah mulianya kepada kami, lalu bersabda: اشفعوا tolonglah keperluan orang yang meminta bantuan ini, dengan kebaikan, maka تؤجروا kalian akan mendapatkan balasan. Firman Allah swt.:
“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” An Nisa’: 85
At Thabrani meriwayatkan dengan sanad shahih dari Mujahid berkata: “Ayat di atas berbicara tentang tolong menolong sesama manusia. Kesimpulan maknanya adalah bahwa orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain, maka ia mendapatkan bagian kebaikan, dan barang siapa tolong menolong dalam kebatilan maka ia mendapatkan bagian dosa.
Syafaat hasanah yang disebutkan dalam ayat di atas adalah pertolongan dalam kebaikan, melindungi hak sesama muslim, menghilangkan keburukan atau mendapatkan kebaikan, mencari ridha Allah, tidak ada risywah atau suap. Pada masalah yang mubah atau boleh atau tidak terlarang, tidak untuk menggagalkan salah satu had atau hukum pidana yang telah Allah tetapkan, tidak pula untuk menghilangkan hak orang lain.
Qadhi Iyadh berkata: Tidak ada pengecualian dari ruang pertolongan yang dianjurkan kecuali dalam masalah had atau pidana yang telah Allah tetapkan. Maka dalam masalah yang tidak ada ketentuan had terutama bagi orang yang tidak sengaja, dan dikenal sebagai orang bersih, pertolongan sangat dianjurkan. Selanjutnya ia mengatakan: Adapun bagi orang yang terbiasa dengan tindakan destruktif, terkenal sebagai ahlul bathil maka tidak berlaku syafaat bagi mereka, agar dapat menjadi pencegah kemaksiatannya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/12/12/1575/kuatkan-kerjasama-laksana-satu-bangunan/#ixzz6DKYWhByJ
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


DALAM hadits, Rasulillah Muhammad banyak menyampaikan/memberikan perumpamaan. Semua Perumpamaan itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
1. Bagaikan Pohon :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء
“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan. Sedangka perumpamaan orang munafik seperti pohon yang kuat tidak pernah digoyangkan angina sampai ia ditebang.” (al-Hadits)
2. Bagaikan Bangunan
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]
3. Bagaikan Tubuh
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
4. Bagaikan Cermin
الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan]
Dan memang, ada bagian tubuh yang tak dapat kita lihat tanpa bantuan cermin. Ada aib diri yang tak dapat kita kenali tanpa ketulusan saudara. Di dalam hati mereka, ada potret kita. “Mukmin yang satu”, ujar Nabi ﷺ, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain”.

Cermin berarti, ketika kita melihat ada yang tak beres pada bayangan di dalam kaca; diri kita sendirilah yang pertama-tama mesti dibenahi kekurangannya. Itulah makna saudara. Ada untuk mengungkap kesejatian kita. Ada untuk membenahi ketidakberesan kita.
5. Bagaikan Lebah
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ
“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi]
6. Bagaikan Pohon Kurma
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.
Artinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” (HR: Thobrani)
7. Bagaikan Emas
مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.
Artinya: “Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)
Pelajaran Moral:
1. Ujian dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Suka dan duka akan mengitari kehidupan. Namun ia tetap tegar, sabar dan tawakkal. Tidak ada ujian tanpa jalan keluar. Tidak ada kesusahan tanpa penawar kebahagiaan. Ke kanan atau ke kiri, berada di atas atau bawah, seorang mukmin akan tegar menghadapi ujian hidup.
2. Kerjasama adalah kunci merajut kebersamaan. Tidak egois dan merasa diri paling penting dan berjasa. Gotong royong dan tenggang rasa merupakan sikap mukmin yang harus dibangun dalam diri.

Perbedaan dengan wasta'inu (meminta pertolongan)

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ 
Arab-Latin: Wasta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā 'alal-khāsyi'īn 
Terjemah Arti: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. .Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

Referensi: https://tafsirweb.com/340-surat-al-baqarah-ayat-45.html

Kita dianjurkan meminta pertolongan hanya pada Allah dengan cara sabar dan sholat, karena itu kepekaan antara sesama muslim untuk saling merasakan kondisi lah yang harus dikedepankan.

“Jika padamu ada kawan baik yang membantu berketaatan”, kata Imam Asy Syafi’i, “Genggam eratlah dia di tangan. Sebab memperoleh sahabat sebenar amatlah sukar, adapun berpisah sangatlah mudah.”.

Pada sahabat sejati itu kita katakan ungkapan Ibn Hayyan, “Kau dan aku ialah satu jiwa; hanyasaja sedang hinggap di jasad berbeda. Kau dan aku adalah ruh yang mesra; sebab Allah yang mengenalkannya.”


15 Sept 2019

Anakku Patah Giginya :( [bagian 1]

Kurang lebih 2 pekan yang lalu, seperti biasanya setiap malam hari sepulang kerja aku bermain dan bercanda bersama putra-putraku, -bagi yang belum tahu putraku berjumlah 3 orang (Ghasan:5thn, Umar:3thn, Utsman:1thn)- namun malam itu aku hanya bermain dengan sibungsu Utsman dan kakaknya Umar, anak nomer 1 ku sudah tidur kecapean, hari-harinya selalu bermain hingga petang jadi lebih cepat istirahat malamnya.

Malam itu kami bermain kejar-kejaran di ruang tengah rumah, ruang tengah kami memang didesign luas dengan meminimalisir perabotan besar, di ruangan selebar 19x12 ubin hanya terdapat 1 rak buku minimalis, meja makan mini lesehan, sofa lantai super mini, ayunan rumahan yang terbuat dari tambang diikat ke jarit dilapisi bantal dan sebuah lemari yang berfungsi sebagai sekat sehingga membentuk ruangan kecil tempat kami beribadah.

Aku memilih posisi duduk di depan lemari di stiker lantai bergambar kolam ikan sambil memperhatikan anakku yang berkejaran, sesekali sibungsu lari ke arahku meminta perlindungan. Oh ya aku belum memperkenalkan istriku, sang designer interior rumah kami, dia sedang terlelap dikamar anak-anak tertidur menemani sisulung Ghasan.

"Abaa.. abaa.." sahut Utsman, usianya sudah lebih dari 1 tahun tapi belum bisa bicara jelas, dia menelusup sambil merangkak bersembunyi di belakang tubuhku yang sedang duduk bersandar ke dinding. Tubuhku bergerak maju sedikit memberikannya ruang, sambil mengingatkan sang kakak agar tidak bercanda berlebihan. Tiba-tiba sibungsu menjerit dan menangis kesakitan, dengan sigap aku langsung mengecek kondisinya.

Bibirnya sedikit mengeluarkan darah, "Astaghfirullah...pasti terkena gigi" batinku. dia jatuh lagi. Sambil masih terbengong dan mengecek kondisi Utsman, ibunya langsung bangun dan menggendongnya untuk menyusuinya. Ya, menyusui selalu pertolongan pertama pilihan kami.

Namun kali ini sepertinya menyusui bukanlah pilihan yang tepat. Ustman masih meraung kesakitan dan tidak mau menyusu! Panik, ya.. ada apa sebenarnya? Kenapa tidak mau menyusui? Aku ikut menghampiri dan menyelidik.

"Gigi depannya patah bay!" sahut istriku. "Astaghfirullah! Ujian apalagi ini ya Allah.." batinku.

Bersambung...

23 Feb 2019

Kurang Piknik

Entah sudah berapa purnama terlewat, aku tak menghitungnya. Karena bagiku sama saja. Saat sabit ataupun bulat, tak ada yang berbeda. Hari-hariku hanya diisi oleh riuh suara kanak-kanak, bunyi wajan sutil yang beradu serta perabotan memasak lainnya. Pagi atau sore mungkin akan ada kemeresek dedaunan yang tergiring sapu lidi. Sesekali suara televisi menemani.

Sekarang akhir pekan. Sebentar lagi suamiku akan tiba. Biasanya kami akan dibawakan martabak atau oleh-oleh lainnya.

Ah, suamiku. Andai engkau tahu, aku ingin yang lebih dari itu. Aku juga ingin seperti mereka. Memakai gamis dan hijab yang senada. Menghabiskan akhir pekan dengan bahagia.

Aku juga ingin makan di tempat yang bagus. Atau naik eskalator. Oya, katanya sekarang juga tempat perbelanjaan itu sudah banyak yang pakai lift lho. Lastri kemarin bercerita.

Sebenarnya aku ingin tahu, tapi aku tak berani bertanya berapa biayanya jika ingin kesana. Aku takut tidak akan sesuai dengan uang yang mas Darmin miliki. Maka anganku kubunuh dalam diam.

"Nah, ayo sini kita makan."

Ahai, itu dia suara merdunya. Sebenarnya mas Darmin suami yang baik. Dia membebaskanku masak di akhir pekan seperti ini. Perhatiannya tak luntur ditelan waktu.

"Ah ya. Sebentar ya, Mas."

Kami makan bersama lalu menonton televisi. Aku, mas Darmin dan kedua anakku.

"Banjir bandang melanda Makassar dan sekitarnya... " suara penyiar wanita itu membacakan berita.

Lalu aku membayangkan bagaimana jika rumah mungil kami yang terendam banjir. Tentu kami tidak bisa makan dan tidur dengan nyaman.

Astagfirullah. Aku bukan kurang piknik ternyata. Hanya kurang syukur. Itu saja.

"Nah, masih ada sisa uang belanja nggak?"

"Masih, Mas."

"Ditabung boleh nggak?"

"Iya boleh, Mas."

Ya, mas Darmin selalu menyebut infaq sebagai tabungan. Tabungan akhirat.

Salam bahagia,
Darmin dan Tinah

***

Pray for Makassar...

***