20 Jan 2013

Membedakan Kelas, Baguskah?

Memisahkan si pinter dan si kurang pinter*, antara sependapat dan tidak sependapat. Di satu sisi, si pinter akan lebih giat karena jelas tak mau kalah bersaing dengan anak pintar lainnya. Dia akan belajar ekstra untuk membalas dendam karena peringkatnya mungkin pernah tergeser.
Kelas unggulan kita sering menyebutnya, yang tingkat kecerdasannya bisa dikatakan hampir sama, ya meskipun kadang tak melulu kelas unggulan berisi semua murid pintar. Bagaimanapun caranya men-short, selalu saja ada yang tidak memenuhi standart. Misalkan ada murid yang sulit sekali menerima pelajaran, sehingga dengan sendirinya akan timbul tanda tanya, kok bisa ya dia masuk sini? Namun itu hanya segelintir. Sebagian besar dari komunitas tersebut adalah sesuai yang dikategorikan.

Dalam bersikap sehari-hari, kebanyakan orang pintar akan lebih sopan dan cenderung menjadi anak “baik-baik”. Dan kebaikan-kebaikan ini lah yang akan menular kepada yang lain. Walaupun tidak semua murid pintar itu seorang yang penurut dan rajin. Ada yang jenius, tapi hendak mengaturnya saja susahnyooo minta ampun. Tapi sekali lagi, itu hanya sebagian kecil. The most student @ that class, are diligent. Dengan situasi kelas yang kondusif (maybe they called, smart area bung!), siswa di kelas unggulan akan lebih mudah mencerna kalimat-kalimat dari guru, malu bila tidak mengerjakan PR, dan malu bila temannya tidak memberikan sambutan yang hangat saat ia meminta jawaban sewaktu ulangan . Teman yang di tanya menjawab dengan sopan, “Gak tau deh, maaf ya aku juga belum.” Dalam hatinya berkata, “Enak aja, gue belajar semaleman loe tinggal nyontek, trus nile lo bakalan lebih bagus daripada gue, trus peringkat loe bakalan lebih bagus dari gue, trus pacar gue mau loe ambil juga?”(lohh…apa hubungannya???). Karena tidak berhasil dapat jawaban, kemudian ia akan belajar lagi dan lagi, dan keesokan harinya ia bisa lebih santai mengerjakan soal ulangan. Ia selesai duluan dan melewati siswa kemarin yang tidak memberinya jawaban, tersenyum kepadanya sembari berkata pada dirinya sendiri, “gak usah pake nanya loe kalee, gue juga bisa tuh ngerjain sendiri, weee..”

Di sisi lain dan dunia yang berbeda, adanya perbedaan kelas ini justru akan melemahkan siswa yang kurang pintar. Anak murid yang belum beruntung karena gagal masuk kelas unggulan, cenderung datar dan biasa saja. Malas dan kurang tantangan dalam dalam belajar. Ah, yang lain juga gitu kok. Kayaknya bakalan susah deh ngalahin dia. Buat apaan, mau pinter kaya gimana  juga ga bakalan dipuji2 kaya anak kelas sebelah, bla bla bla. Semakin lama, ia akan semakin cuek, bahkan mungkin bisa menurunkan prestasi, lebih buruk daripada sebelum ia masuk kelas tersebut. Belum lagi teman-temannya, bisa dibayangkan bagaimana situasi kelas yang tidak bisa mereka hargai dan nikmati sebagaimana mestinya, dan jelas sama sekali tidak mereka harapkan. Pun juara kelasnya, menjadi yang nomor satu di kelas yang biasa dan menjadi juara di kelas unggulan, apakah akan sama rasa bangganya?

Jahilun (Arabic=bodoh), di Indonesia berarti usil. Saya sendiri juga kurang paham bagaimana cara bangsa kita mengadopsi bahasa. Seperti Tajirun yang arti sebenarnya adalah pedagang, namun karena kebanyakan pedagang itu kaya, jadilah tajir di Indonesia berarti kaya. Kalo tajin, dimana-dimana tetep, air rebusan beras (Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek!). Nahhh…. Mungkin karena banyak orang bodoh yang melakukan hal-hal yang kurang berguna, jadilah jahil di Indonesia berarti usil. Gimana?Muter-muter gak bahasanya? Padahal penulis cuma mau bilang kalo kebanyakan orang kurang pintar itu bandel, hehe. Kebanyakan lho ya, gak semua.

Dengan berkumpulnya (maaf) anak-anak bandel tersebut, terjadilah kebandelan demi kebandelan yang tumbuh seperti rumput, mengakar kuat dan berkembang biak tanpa disiram. Soal pelajaran, sudah barang tentu kita harus kasian sama gurunya, hehe. Tapi ini tentang karakter yang terbentuk karenanya. Pertama mungkin mereka akan mulai dari bolos sekolah, selanjutnya temannya mungkin akan menawarkan rokok, lalu telat pulang, ato bahkan tidak pulang ke rumah, dan kenakalan remaja lain, naudzubillah. Padahal pemuda adalah tulang punggung bangsa, gimana nasib bangsa Indonesia kelak kalo di sekolah muridnya pada bandel semua?? Gimana mau maju? Apa yang bisa dilakukan untuk bangsa agama dan negara? Kalian ini mau jadi apa hahhh?? *Adegan guru lagi marah2, padahal cara tersebut sudah kuno menurut saya. Hanya pantas untuk anak kecil, bagaimana mungkin kata-kata tersebut bisa merasuk ke dalam jiwa mereka? Mungkin mereka menjawab sendiri dalam hati, Ahhh basi gitu mulu.

Dengan kata lain, adanya perbedaan tersebut membuat kita beranggapan bahwa yang pintar akan semakin pintar dan yang kurang pintar semakin kurang ajar (Ups! Serius kidding, peace!). Maksudnya yang kurang pintar akan semakin kurang pintar. Dalam bergaul pun, dengan sendirinya akan tercipta kubu-kubu yang berbeda. Si pintar dan si rajin akan mengadakan kegiatan belajar bareng, mengerjakan tugas bareng, pergi ke toko buku, dan lain-lain. Komunitas anak bandel yang mungkin sebenarnya merasa kurang pede, mengobati rasa mindernya dengan petantang petenteng di depan siswa lain (sok iyes gitu lohh).

Lain halnya bila semua murid disamaratakan. Murid akan merasa mampu, merasa sederajat sehingga lebih mudah menangkap pelajaran, ada keinginan untuk mempelajari hal yang baru, rasa ingin tahunya timbul. Ia yakin dan percaya bahwa ia bisa. Karena pada dasarnya manusia tidaklah bodoh. Keberadaannya sebagai khilafah, manusia disertai pula dengan akal yang tidak bisa diproduksi atau dibeli oleh siapapun, subhanallah. Pakar ilmu sekelas Einstein pun hanya menggunakan sepersekian dari otaknya, namun ia mampu membuat sejarah yang luar biasa dalam dunia sains. Dalam hal ini, murid yang tadinya biasa saja, ada kemungkinan menjadi luar biasa. Kelas pun menjadi lebih beragam. Siswa mampu mengeksplore bakat dan kemampuan masing-masing. Siswa yang treatikal mungkin akan ikut ekskul drama, KIR sebagai wadah siswa yang suka menulis, yang gemar berpetualang tentu dengan antusias menyambut ajakan temannya untuk bergabung di klub pecinta alam atau pramuka, band sekolah juga tak kalah ramai, sains juga jadi punya peminat yang tak kalah sedikit. Akan berbeda jika rolling kelas diadakan secara berkala. Di beberapa sekolah, perbedaan kelas tersebut dimulai dari ketika siswa masuk sekolah sampai lulus, hal ini yang mungkin bisa memperburuk keadaan si kurang pintar. Namun jika setiap tahun, atau setiap semester berubah anggota di kelas unggulan, hal ini bisa dijadikan pemicu untuk membakar semangat belajar para murid, karena usahanya tak sia-sia. Murid bisa pindah ke kelas unggulan jika nilainya memenuhi standart.

Namun kembali ke pribadi masing-masing bagaimana menyikapi situasi yang ada. Masih ada anak kurang pintar yang tetap gigih dan tak mau kalah dengan murid lain. Ada juga yang masih malas-malasan duduk di kelas unggulan, meskipun kurang berprestasi, tapi ia tetap merasa lebih dibandingkan anak kelas non unggulan.

Nah di sinilah perhatian dan peran serta orang tua sangatlah penting, selain guru di sekolah tentunya. Anak yang kurang perhatian, berkurang pulalah semangat hidupnya. Dalam pertumbuhannya, diharapkan orang tua selalu mengontrol dan memberi dukungan terhadap anaknya. Mengajarkan disiplin sejak dini tentu menjadi hal sangat perlu bahkan wajib. Bila akarnya kuat, pohon pasti tidak akan mudah tumbang oleh terpaan angin. Pun begitu dengan karakter yang telah ditanamkan di dalam keluarga. Hendak menjadi apapun anak, tak lepas dari bagaimana cara orang tua mendidik. Orang tua adalah panutan, segala tingkah lakunya akan terlihat, terangkum dalam memori otaknya, terserap dengan sendirinya dan akhirnya akan terbiasa dan ditirukan dalam kegiatan sehari-hari. Namun akar, seberapapun kecilnya masih ada harapan untuk tumbuh.

Masih bangga menjadi anak unggulan?
Ajak dan rangkullah semua teman kepada kebaikan. Lebih giat dalam belajar, tanpa lupa bersosialisasi dengan sekitar. Jangan terlalu memilah milah teman. Karena sejatinya, attidude adalah sesuatu yang teramat penting. Pernah di ibaratkan untuk attitude ini dalam sebuah motivasi. Jika kita memberi nilai 1 pada huruf A, 2 pada huruf B, begitu seterusnya sampai angka 26 untuk huruf Z. Luar biasa, ternyata attidude ini mempunyai nilai yang paling tinggi. ATTITUDE (1+20+20+9+20+21+4+5=100) bahkan akan mengalahkan KNOWLEDGE (11+14+15+23+12+5+4+7+5=96). 

Atau merasa tidak berguna di kelas yang biasa?
Rubah persepsi, tanamkan dan kokohkan dalam diri kemauan yang kuat, there is a will there is a way. Kalau pepatah mengatakan, banyak jalan menuju pasar, bisa naik angkot, naik motor atau nebeng teman. Tapi caranya harus tetap benar, jangan sekali-kali naik angkot ke pasar tapi tak mau bayar ya, hehe.

*I respect to them so I called ‘not clever enough’ 


No comments: